Jembatan Bambu
Entah apa yang jadi pembawaan saya. Yang pasti, saya sering juga jadi ember bagi teman-teman saya. Artinya, mereka curhat sampai habis-habisan tentang persoalan pribadi mereka pada saya. Dari A sampai Z. Tanpa ditutup-tutupi. Tampaknya mereka tidak terlalu curiga pada saya.
Padahal, bisa saja saya jadi ember bocor, dan cerita mereka yang saya tampung jadi menyebar kemana-mana. Untungnya, saya tidak seperti itu. Saya hanya terus duduk, menatap mereka dan melihat bibir mereka terbuka dan tertutup, menceritakan segala kegundahan hidup dan kesialan mereka.
Apa yang bisa saya komentari? Rasanya, nasehat saya juga biasa-biasa saja. Standar. Sabar aja, nanti masalah ini juga akan berlalu. Atau, sering-seringlah sholat sunnat, mudah-mudahan Allah segera menunjukkan jalan keluarnya. Saya jadi hapal berbagai kalimat mutiara. Karena seringnya saya lontarkan.
Hingga akhirnya, saya menarik kesimpulan bahwa hidup itu seperti menyeberangi jembatan bambu gantung. Di tengah-tengah jembatan, bisa saja tiba-tiba kita dapat gangguan. Atau yah... katakanlah cobaan. Berdiri tegak, tiba-tiba mencong condong ke kanan... eh...ups... tahu-tahu doyong ke kiri... Asal tahu ilmunya, tentu bisa kita kerahkan segala kemampuan dan kekuatan, agar bisa seimbang dan kembali berdiri tegak. Lalu, dengan kepala lurus menghadap seberang jembatan yang jadi tujuan kita. Dan kembali berjalan.
Saya juga merasa, bahwa bukan sayalah yang berada di tengah-tengah jembatan bambu itu. Tapi, teman-teman saya. Dengan berbagai persoalan yang mereka pikul sendiri, saya mengawasi dan menemani mereka. Agar mereka bisa kembali berdiri dan berjalan menuju seberang jembatan, setelah terayun-ayun hendak jatuh. Entah ke jurang, atau ke sungai, atau bahkan ke neraka.
Singkat cerita, akhir-akhir ini, seorang teman telah berhasil mengarungi jembatan bambunya. Setelah sekian tahun, akhirnya ia mampu mendapatkan solusi dan menyelesaikan persoalannya. Alhamdulillah...
Tentu saja campur tangan Allah SWT sangat menentukan. Sang teman, ketika terakhir saya kunjungi, ia tampak terlihat ceria, segar, sehat dan berseri-seri. Bukan main, saya pun turut merasa lega dan sangat gembira. Seorang teman, telah mendapatkan pembelajaran hidup yang sangat penting.
Sementara itu, teman saya yang lain, ternyata masih berkutat dengan sejuta persoalannya. Tidak tahu, kapan badai akan berlalu. Masih gelap. Saya hanya berdoa, mudah-mudahan teman saya yang satu ini bisa mengatasi masalahnya. Dan saya pun akan kembali duduk disisinya, mendengarkan berbagai keluh kesahnya, sambil sesekali mengeluarkan kalimat-kalimat bijak.
Padahal, ketika saya juga berada di jembatan bambu, belum tentu saya bisa setegar mereka dalam menghadapi persoalan. Dan, belum tentu saya juga melewati jembatan bambu dengan kepala tegak berdiri dan selamat sampai di seberang jembatan.***
Diposting sekitar thn 2010
Reposting di bonjourlarcenciel.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar