Apa Jawabannya

Apa jawaban yang sebaiknya saya berikan pada Pandu, anak sulung saya.

Sepulang dari libur Lebaran yang panjang di Bogor, di rumah Nenek (Eni) dan Kakeknya (Aki), ada saja pertanyaan mencuat dari bibir mungilnya. Begitu mata terbuka di pagi hari, ia akan langsung bertanya, “Ini hari apa, Bu? Jam berapa Bu kita pergi ke Rumah Eni? Kapan Bu kita ke rumah Eni?” 


Sepulang sekolah, di motor atau mobil yang menjemputnya, tidak bosan-bosan ia mengulang pertanyaan yang sama.

Kala lain, ia mengatur rencana, dan berkata pada saya, “Ibu, lain kali kalau kita pergi ke rumah Eni, kita mesti tinggal lama, tapi kalau pulang ke rumah Ayah, cukup sebentar saja. Kalo di rumah Eni enak rumahnya besar dan dekat mall, rumah ayah kecil mallnya jauh”. Saya pun tertegun mendengar pengaturannya, tak tahu mesti berkata apa. Saya cuma berkomentar, “Kasihan ayah dong nanti, enggak ada temannya.”

Saya tidak tahu, apa sebenarnya yang sedang terjadi di dalam hati, jiwa dan pikirannya. Apakah hanya sekadar rasa kangen pada kemanjaan-kemanjaan yang ditawarkan sang Kakek Nenek. Atau ada sesuatu yang lebih dalam lagi. Yang tidak kasat mata, tidak bisa terungkapkan dengan kata-kata atau perilaku belaka.

Mungkin saja rasa rindu itu justru datang dari Kakek dan Neneknya. Yang tidak bisa mereka pinta, agar cucu-cucunya yang tinggal jauh, bisa tinggal berdekatan dengan mereka.

Atau justru, sayalah biang keladinya, ibunya. Justru sayalah yang diam-diam menyimpan rasa sendu itu. Tanpa pernah sempat keluar. Tanpa pernah saya perhatikan rasa yang terselip itu. Dan mungkin saja, rasa itulah yang tertular, entah mungkin dengan perantara alam, pada anak-anak saya. ***

Diposting sekitar thn 2006

Reposting di bonjourlarcenciel.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar NgeBlog

Quotes by Francoise Sagan