Jembatan Bambu
Entah apa yang jadi pembawaan saya. Yang pasti, saya sering juga jadi ember bagi teman-teman saya. Artinya, mereka curhat sampai habis-habisan tentang persoalan pribadi mereka pada saya. Dari A sampai Z. Tanpa ditutup-tutupi. Tampaknya mereka tidak terlalu curiga pada saya. Padahal, bisa saja saya jadi ember bocor, dan cerita mereka yang saya tampung jadi menyebar kemana-mana. Untungnya, saya tidak seperti itu. Saya hanya terus duduk, menatap mereka dan melihat bibir mereka terbuka dan tertutup, menceritakan segala kegundahan hidup dan kesialan mereka. Apa yang bisa saya komentari? Rasanya, nasehat saya juga biasa-biasa saja. Standar. Sabar aja, nanti masalah ini juga akan berlalu. Atau, sering-seringlah sholat sunnat, mudah-mudahan Allah segera menunjukkan jalan keluarnya. Saya jadi hapal berbagai kalimat mutiara. Karena seringnya saya lontarkan. Hingga akhirnya, saya menarik kesimpulan bahwa hidup itu seperti menyeberangi jembatan bambu gantung. Di tengah-ten...